MEW: Perut Mules dan Kebahagiaan

Pertama kalinya, saya nggak pernah sebahagia ini nonton gigs.

Pertama kalinya, saya menangis karena senang bertemu idola saya sedari SD.

Dan itu semua ada di konser Mew semalam di Stellarfest :’D Tebak deh harga tiketnya berapa? 50 ribu aja 😮 Iya, itu sudah termasuk band-band lain.

Sebelum Konser – Sakit Perut Sialan

Saya pulang kuliah jam 16.30. Sudah pasti saya tidak bisa nonton Reality Club, sebuah band yang baru-baru ini saya ketahui. Ah tak apalah, masih bisa nonton Sore. Awalnya saya optimis saya bisa sampai di tempat jam 6 sore, namun ketika akan melewati halte Sarinah tiba-tiba saya sakit perut :’) Kan nggak oke tuh, di tengah-tengah berjubelnya orang-orang di dalam Transjakarta, eh malah perut mules efek makan ayam geprek kemarin :’D Alhasil, jam 6 kurang saya langsung turun di Sarinah lalu ngibrit ke McD. Sialnya saat saya duduk di kloset agak lama, ternyata yang ‘dinantikan’ tidak kunjung ‘rilis’. Berburu dengan waktu dan berbekal keyakinan bahwa saya akan selamat sampai akhir konser tanpa proses ekskresi ini, lalu saya langsung siap-siap dan berbenah. Keluar dari McD > jalan cepat ke halte > naik TransJakarta. Jujur saja saat naik TransJakarta perut saya agak berontak lagi. Sambil menahan umpatan dan berharap tidak cipirit, ternyata AC di bus menjadi lebih dingin. Wah.. Gawat nih kalo hasrat puppi ini menguat di tengah jalan. Mana halte Metro Jaya masih lama lagi, apalagi pas macet begini 😦 Akhirnya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

 

Menurut Google, untuk ke Istora Senayan saya bisa turun di halte Polda Metrojaya. Saya sudah membayangkan saya melalui jalan yang sedang diperbaiki  sepanjang Sudirman ditemani debu-debu bak padang pasir. Ternyata oh ternyata saya salah turun pemirsa. Turun di halte Sudirman lebih bijaksana karena memakan waktu lebih sedikit ke Istora. Ya sudah tidak apa-apa. Saya ikhlas. Demi Mew dan Sore. Ada 10 menitan saya jalan dari halte Polda Metrojaya ke venue. Andai saya tidak turun di halte Polda, mungkin saya nggak ketemu mas-mas unyu yang menemani saya untuk sampai di tujuan karena saya belum pernah ke sana sama sekali. Setibanya di sana, saya disambut Sore. Ahay! Saya nggak telat-telat bangetlah, masih dapat 1/2 lagu pertama.

Seingat saya Sore membawa >5 lagu. Lagu-lagu dari Port Lima hingga Los Skut Leboys. Jangan rudung saya kalau ini gigs Sore pertama saya. Saya anak yang sangat jarang pulang malam karena nonton konser selama di Yogyakarta. Penampilan mereka memuaskan, sayang mereka tidak membawakan lagu ‘Bogor Biru’ dan ‘Mata Berdebu’ hihi tak apa, yang penting lagu daur ulang ‘Pergi Tanpa Pesan’ diputar, apalagi saat personilnya memainkan saxophone.

Band selanjutnya adalah Polka Wars bergenre rock. Dari sekian lagu-lagunya yang asyik, saya hanya tahu ‘Mokele‘ karena pernah diputar di radio Swaragama. Oke lah kalo beg beg begitu.

Akhirnya setelah beberapa lagu dimainkan kemudian diikuti wara-wiri teknisi, here they came, MEW! ❤

 

I cried

Setahu saya dari album ‘Frengers’ sampai ‘+-‘ dibawakan. Di album +- saya hanya tau Satellite dan Water Slides, sementara saat lagu-lagu ‘Frengers’ saya ikut berdendang bersama penonton lainnya.

 

Satu kesan yang tidak pernah berubah terhadap Mew adalah suara malaikatnya Jonas yang kontras dengan suasana rock yang hacep alias pecah gila. Jonas ini memang dewa kali ya?

Oh ya.. Saya juga menangis di tiap lagunya. Saya tidak peduli dikatakan lebay. Saya memang ingin menonton konser Mew sudah sejak lama. Saya selalu melewatkan kesempatan nonton mereka karena alasan harga tiket konser dan transportasi. Ketemu idola saya yang beraksi di panggung, sedangkan saya di kerumunan yang mungkin mereka nggak notice saya ada di sana membuat saya dekat. Duh, sama Mew saja begini, apa kabar BTS dan KOC? wQZ Tapi ada alasan lain mengapa saya nggak akan  lupa dari konser ini,

Ini gigs pertama saya dimana saya bisa rileks menikmati. Ya saya akui setiap saya nonton konser musik, saya tidak diperkenankan pulang lewat jam 10 malam. Jam 22.30 tiba di rumah saja saya sudah dimarahi. Tidaklah heran jika sebelum jam malam, boro-boro menikmati bintang tamu utamanya secara menyeluruh hingga akhir, saya pasti sudah  agak ketar-ketir dan mengucapkan ‘sampai jumpa’ ke teman-teman. Kemarin malam, kira-kira pukul 22.15 saat Mew belum selesai tampil, sempat terpikir untuk pulang lebih awal agar pulangnya lebih enak, tidak bareng keramaian. Belum lama kepikiran itu, dalam diri saya mengatakan, “Just enjoy it, vic. Sampai selesai. Tanggung banget sudah ke sini.” keinget dong gimana bulan lalu saya mengorbankan duit 50 ribu padahal itu akhir bulan (karena takut kehabisan), bertahan dengan sakit perut yang nyebelin di tengah kemacetan Jakarta yang parah. Bodo amat baju sudah kecut, dempetan sama penonton lain. Akhirnya saya nonton sampai selesai. Yeay! Momen ini juga menandakan bahwa Vicky sudah jadi anak malam hahahaha

Hihihi segitu dulu ya cerita dari saya. Saya dokumentasi cuma beberapa dan tidak akan saya unggah di sini karena semua berbentuk video, sementara saya belum upgrade akun WordPress saya ke premium :p Puas? Za izalah.. Uh andai saja Jonas bisa saya bawa pulang untuk meninabobokan saya.

 

 

 

Advertisements

Broken-heart playlist

I hereby blame my hormones due to making me so melancholic lately. I made a broken-hearted playlist (I’m so productive). Hope this playlist could be a great company to mourning your past. (I’ll add some in the future)

A Song for Quarter Life Crisis Survivor

Everyone has soundtracks for their lives. When in jubilant moments, feelin blue, in despair, surrender, fallin in love; well you named them. So do I. And today, I share mine.

Don’t bully my taste bc like I care? :p No. It’s not a love song. The lyric addresses to people whose high anxiety for their future. For everyone that livin in their quarter-life crisis, this song relates us much (cheers!) Nah. This song doesn’t hand you either ‘how to live your unstable life’ practically or ‘how to reach inner peace if you’re 25 y/o’; this song expresses how occasionally people are unsure for their paths, seem all of them irreversible and need a boldness to choose. C’est la vie, keep moving forward.

This is my song, how about you?

Trial and Error of Making Spinach

Mau bikin bayam nggak punya temukunci, gula, dan bawang merah? No worry.. I successfully made it by myself. Okay, tada!

Bayam

Looks compelling & promising like my future, right? (Aamiin). Am very elated with my 2nd attempt of cooking spinach! On my previous trial, I used temukunci and sugar. Frankly, my first spinach was frickin salty bc I put much sugar into it and I wanted to make it balance for flavour, yet it tasted awful. I’m so proud of myself! (anak kos’ tears in joy). I guarantee the taste! Anyway, I would thank to Cookpad users for giving alternatives while I lacked ingredients ❤ Guess what, I only used my intuition when I was cooking it; just put them all randomly. Taste it while you’re cooking, to test that yours are edible. Can’t wait to cook other veggies!

 

Anyway, here are the ingredients:

  1. A bunch of spinach3
  2. 3 cloves of onion
  3. Corn (no wonder, it substitutes sugar)
  4. A carrot
  5. Salt
  6. Water
  7. 1/2 of tomato

 

Nostalgia: MTV Indonesia

 

house-nav
MTV (taken from: MTV.co.uk)

 

 

Minggu ini rasanya ingin sedikit bernostalgia dengan kenangan zaman kecil dulu. (sebenarnya gara-gara disuruh bikin makalah di kampus sih :p)

Tulisan ini masih butuh analisis lebih dalam, baik dari segi televisi swasta di Indonesia dan digali lagi dengan tema ‘penjajahan’ yang ingin saya usung di esai ini.

MTV: Ekspansi Pasar Global

Music Television (MTV) merupakan saluran kanal televisi kabel 24 jam yang memutarkan musik dan program-program yang digandrungi anak muda. Awalnya dimiliki oleh Warner Amex Satellite, kemudian beralih ke Viacom International pada tahun 1985.[1] Viacom International ini memiliki MTV dan MTV2, selain itu ia juga memiliki beberapa perusahaan seperti televisi kabel, radio, internet, percetakan buku, produsen dan distributor film. Dari usaha-usaha yang dikuasai, membuatnya menjadi konglomerasi media besar di dunia.

Continue reading “Nostalgia: MTV Indonesia”

The Fragile Woman

I met a fragile woman. She’s tough and intimidating from outside. Some say she’s hard to approach and a rock-headed kind.  She’s mysterious and never put a smile yet smirks a lot. She’s unbeatable.

Nonetheless,  I only see her as a beautiful fragile woman. She’s softly sentimental. Once you reach the bottom of her heart, she will pull you through into her universe. Yes, she was broken once and you could perceive a shattered heart in her; that’s why she never lets any strangers butt in her life.

Percakapan di Bis Kuning

Seseorang berkata,

“Kupikir feminis nggak adil pada pria juga, contoh aja saat di KRL.” katanya sambil mengambil kentang gorengku.

“Lho? Memang kenapa?”

“Saat itu ada ibu-ibu hamil yang capek banget sampai dia membutuhkan kursi. Sementara di bangku prioritas yang duduk itu justru orang-orang yang nggak masuk prioritas. Yang paling aku sebel adalah orang-orang di sekitarku langsung menyuruhku untuk berdiri, kenapa bukan orang yang di bangku prioritas saja yang diusir?”

Belum sempat aku mengeluarkan sumpah serapah padanya, dia menambahkan.

“Kupikir ketika setara adalah baik pria dan wanita bisa memiliki akses sama di ranah publik, bahkan di KRL. Sampai sekarang feminis belum melihat itu.”

Oke, ia ada benarnya juga. Terlepas dari jenis kelamin (sex), menjadi feminis adalah saat kita harus mengerti bagaimana tiap manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses. Ya tiap manusia adalah kita. Apapun label yang kita punya. Pria sebenarnya juga menghadapi persoalan stereotip yang sama dengan perempuan: kuat. Kadang manusia lupa bahwa laki-laki pun masih berhak untuk mendapatkan akses dengan tuntutan stereotip yang ia miliki.

Namun, sepertinya dia dan kita sebagai manusia harus belajar misoginis,  egoisme dan power yang sering jadi akar permasalahan feminisme. Setuju?