Indonesia dan Diplomasi Jalur Kedua Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan: Evaluasi, Peran dan Langkah ke Depan.

Indonesia & Diplomasi Jalur Kedua Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan: Evaluasi, Peran, dan Langkah ke Depan
Indonesia & Diplomasi Jalur Kedua Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan: Evaluasi, Peran, dan Langkah ke Depan

Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM (PSSAT UGM) bekerjasama dengan BPPK Kementrian Luar Negeri mengadakan Seminar Diseminasi Riset dengan judul Indonesia dan Diplomasi Jalur Kedua Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan: Evaluasi, Peran dan Langkah ke Depan. Isu Laut Tiongkok Selatan adalah major issue dalam kawasan regional Asia Tenggara, khususnya negara-negara ASEAN. Secara singkat, LTS ini menjadi wilayah persengketaan antara Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Taipei dan Brunei Darussalam.

Prof. Dr. Hasyim Djalal

Dalam seminar ini, Hasyim Djalal menyatakan bahwa walaupun Indonesia tidak berbatasan dengan LTS, Indonesia – sebagai negara anggota ASEAN- sangat berkontribusi dalam penanganan konflik arbitrasi antara negara-negara yang mengklaim LTS ini dengan mengadakan Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea (WMPC-SCS). Workshop ini diprakarsai oleh Kemenlu pada tahun 1992 dan hingga saat ini workshop ini masih menjadi wadah bagi negara-negara yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahan lintas regional. Workshop ini lebih tepat dikatakan sebagai 1 1/2 track diplomacy dibandingkan dengan istilah two track diplomacy karena pada kenyataannya penyelesaian konflik ini lebih mengandalkan pertemuan antara negara dengan menggunakan jalur tidak resmi (unofficial). Dari workshop ini, negara-negara partisipan telah mengeluarkan Declaration of Conduct (DOC) dan Rules of Conduct (ROC). Perbedaan DOC and ROC adalah DOC hanya sebuah deklarasi dari semua negara yang bergabung untuk menangani serius sengketa ini namun belum ada kekuatan hukum yang mengikat, sementara ROC sudah mulai mengikat karena ada hukum yang melindungi. Lika-liku yang dialami oleh Indonesia adalah ternyata klaim yang tidak jelas dari beberapa negara pengklaim LTS, termasuk Cina. Bahkan hingga sekarang Cina belum menyatakan secara jelas sebenarnya apa yang diinginkan dan terus menekankan pada klaim historis, berbeda dengan Vietnam dan Filipina yang lebih ‘terang-terangan’ dalam membawa kepentingan mereka dalam aspek ekonomi dan teritori.

Sebelum mengakhiri, Hasyim Djalal mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh negara-negara pengklaim Laut Cina Selatan dan pihak-pihak yang terlibat dalam resolusi konflik, khususnya ASEAN seperti perlu adanya keberlanjutan informal meeting sebagai sebuah pendekatan rekonsiliasi konflik, adanya rules of engagement yang harus dipatuhi oleh negara-negara  terutama pada hukum kelautan, penjelasan yang jelas tentang apa yang diklaim, dan bagaimana sikap-sikap negara-negara yang terlibat agar tidak memantik konflik.

Drs. Muhadi Sugiono

Sesi kedua ini diisi oleh Muhadi Sugiono yang menilai efektivitas WMPC-SCS. Ia melihat konflik LTS sebagai konflik dinamis karena tidak hanya dari negara-negara ASEAN, Tiongkok, Taiwan; namun juga terdapat kepentingan Amerika Serikat dan Indonesia telah memberikan kontribusi secara baik. Muhadi Sugiono menyatakan bahwa ada dua karakter konflik : eksistensialisme dan basis distribusi. Konflik perebutan wilayah laut ini lebih mencerminkan eksistensialisme, bagaimana sebuah negara ingin mengklaim bahwa Laut Cina Selatan ini hanya dimiliki satu negara (value-claiming). Sebenarnya karakter konflik ini bisa diubah ke karakter yang basisnya distribusi; dimana kecenderungannya adalah mencari jalan tengah untuk keinginan semua negara yang terlibat atas teritori tersebut. Setidaknya ada tiga cara untuk mengatasi konflik ini:

a) Mengidentifikasi permasalahan dengan menggunakan model bawang. 

Layaknya bawang, ada beberapa lapisan di dalamnya. Dengan menggunakan model ini, ada 3 lapisan di dalamnya: lapisan terluar adalah posisi, lapisan kedua adalah kepentingandan lapisan terdalam adalah kebutuhan.  Semua negara sudah memberikan pernyataan terhadap posisi mereka sebagi pengklaim LTS, kemudian negara-negara tersebut sudah menyatakan kepentingannya terhadap LTS, namun tidak semua menyatakan eksplisit kebutuhannya. Dengan identifikasi ini, baik bagi negara-negara yang bertikai maupun tidak bisa memahami apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan masing-masing, akan tetapi masih ada negara yang belum memberikan pernyataan secara jelas sehingga ini dapat menghambat resolusi dan jalan tengah yang dapat meredakan atau menyelesaikan masalah. Selain itu klaim yang dinyatakan oleh negara tidak hanya sekedar klaim tanpa bukti yang mendukung dan tidak memiliki arah kepentingan yang jelas.

b) Resolusi konflik dengan mengubah karakter konflik yang tidak bisa dinegosiasikan menjadi negotiable

c) Adanya kesepakatan dan persetujuan semua pihak dalam penanangan konflik untuk menunjukkan keseriusan

Ia pun menambahkan bahwa inisatif Indonesia sudah cukup bagus dan perlu ada dukungan dari negara ASEAN untuk tidak hanya meredakan konflik tapi menyelesaikan secara tuntas karena potensi konflik ini cukup tinggi sehingga dapat memicu agresi yang bisa menjadi bom waktu apabila permasalahan ini hanya diredam saja.

Ada dua tipe negosiasi: distributive bargaining (win-lose) dan integrative bargaining (win-win). Menurut penulis akan wajar bagi Tiongkok untuk tidak menyatakan apa kepentingannya secara jelas kepada siapapun termasuk Indonesia. Penulis hanya bisa menerka bahwa bila Laut Cina Selatan berhasil dikuasai oleh Tiongkok, maka banyak potensi yang akan didapat: perikanan, ekonomi, jalur pelayaran, dsb. Dengan adanya opening statement dari Tiongkok sebenarnya menjadi langkah yang wajar apabila ia tidak memberikan pernyataan jelas,bisa jadi semacam ada resistance point yang tidak ingin diberi tahu oleh Tiongkok. Penulis melihat bahwa arah konflik ini memang cenderung ke zero-sum game dimana ada satu pihak yang menang dan pihak lain kalah. Selain itu tendensi untuk membiarkan masalah malah menjadi penghalang untuk menyelesaikan konflik.

Bila penulis melihat dari sudut pandang ASEAN, sebenarnya urgensi agar negara-negara anggota bersatu untuk menyelesaikan permasalahan harusnya sudah ada di benak negara-negara anggota, selama ini ASEAN hanya lebih menyimpan high issue. Prinsip non-intervensi pun rupanya masih menjadi penghalang, kadang memang prinsip ini menjadi pisau bermata dua: satu sisi untuk menghargai kedaulatan negara lain dalam menyelesaikan masalah, di sisi lain ini bisa menjadi ancaman bagi kestabilan regional karena negara-negara yang ingin membantu tidak bisa serta merta memberikan bantuan untuk mengkondusifkan situasi dan kondisi negara-negara ASEAN sehingga dibutuhkan engagement baik baik di dalam lingkup ASEAN dan hubungan internasional. Lewicki pernah menyatakan bahwa perundingan tidak hanya berorientasi win-lose alias value claiming tapi juga bisa mennciptakan situasi kondisi win-win alias value creation dimana bisa saja terjadi integrasi yang baik dalam menemukan kepentingan-kepentingan semua. Tetapi rupanya masih ada tarik ulur terhadap permasalahan ini sehingga tidak ada perkembangan kasus lagi jika kita melihat dari segi ASEAN. Penulis berharap pada Indonesia dimana yang telah memprakarsai resolusi konflik ini, juga perlu menekankan bahwa dibutuhkan awareness from each member that we have problem to resolved dan jangan sampai usikan dari luar ini mengganggu stabilitas regional Asia Tenggara, mengingat ASEAN sering meredam permasalahan yang harus diselesaikan secara cepat dan malah mengesampingkannya.

P.S.:

  1. Model bawang merupakan cara untuk mengidentifikasi masalah dengan melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pihak yang berkonflik. Penulis lupa nama ahli keamanan dan perdamaian yang memberikan analogi bawang sebagai penyelesaian masalah. Jika penulissudah menemukannya saya akan meralatnya 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s