Euro sebagai Identitas Kolektif EU

Hai teman-teman. Kali ini, saya lagi belajar nulis bermutu dan saya membuka kritik dan saran dari teman-teman. Tulisan ini tentang argumen saya tentang Euro sebagai identitas kolektif European Union. Bantu saya untuk jadi lebih baik lagi dong :p Yak dimulai!

Dari organisasi-organisasi regional yang ada di dunia, EU merupakan organisasi yang telah melewati tahap-tahap integrasi ekonomi dari awal hingga akhir. Tahap-tahapan tersebut terdiri dari free trade area, customs union,common market,dan economic union. Berawal dari inisiatif Schuman pada tahun 1950 dan ditindaklanjuti dalam Traktat Paris pada tahun 1951 untuk menyatukan negara-negara Eropa dalam suatu regional yang kemudian dinamakan European Coal and Steel Community yang mengacu pada  common market – dimana tahapan ini sudah ada pembebasan hambatan dan bea untuk negara anggota maupun non-anggota- dalam perdagangan baja dan minyak di antara keenam negara yaitu Perancis, Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Luksemburg. Seiring waktu berjalan, ECSC mengalamsi perubahan menjadi  European Economic Community (EEC)dan European Atomic Energy Community (Eurotom) di tahun 1957, akhirnya organisasi regional ini pun berganti naman menjadi EU pada tahun 1992.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Haas bahwa dalam intergasi yang terjadi dalam tubuh Eropa merujuk pada teori neofungsionalisme dimana suatu institusi dapat bergeser pandangan dari nasionalisme menjadi berbasis regional yang nantinya akan muncul konsep komunitas politik yang baru. Teori ini pun memiliki tiga poin penting seperti spillover, transfer of domestic alliances,dan technocratic automaticity.[1]

Dalam pengintegrasian terjadi persamaan identitas. Dalam EU sendiri pengintegrasian terjadi dalam penggunaan mata uang Euro yang digunakan sebagai alat transaksi antar anggota dengan keuntungan-keuntungan seperti memudahkan transaksi antar anggota negara EU, mengurangi tekanan fluktuasi dan proteksionisme yang dapat menghalangi single-market di dalam tubuh EU; serta penggunaan Euro ini dipercaya dapat menjadi solusi bagi EU dalam menghadapi pasar global.[2] Proses Euro menjadi mata yang EU dimulai dengan pengenalan mata uang ini secaa terbatas dalam European Monetary Union tahap III yang dikenalkan pada 1 Januari 1999 dan mulai digunakan pada tahun 2002 dimana anggota yang bersedia untuk menggunakan Euro adalah Austria, Belgia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, dan Spanyol.[3] Pada saat itu negara-negara seperti Swedia, Inggris, Denmark,dan Yunani tidak menggunakan euro seagai mata uang mereka, meskipun begitu di tahun-tahun berikutnya beberapa negara seperti Malta,Cyprus, Spanyol, Slovania,Estonia, Kroasia menambah daftar negara yang akhirnya menggunakan euro sebagai bentuk bahwa mereka tergabung dalam EU.[4]

Penggunaan Euro sebagai identitas bukan semata-mata alasan ekonomis saja, tetapi bisa menjadi simbol atau ciri khas masyarakat EU. Uang dianggap menjadi alat yang bermanfaat untuk mengembangkan identitas Eropa sebagai bentuk collective identity dalam masyarakat EU. Selain itu penggunanaan Euro dimanfaatkan sebagai alat politik sebagaimana yang dijelaskan oleh Benedict Anderson terkait Euro di EU: uang telah berperan dalam membentuk ‘komunitas imajiner’ dan mengkonsolidasi negara bangsa.[5] Dapat dikatakan bahwa Euro seagai mata uang bukan hanya sebagai materi saja, tapi dia juga berkaitan dengan kepercayaan satu sama lain mengingat Euro digunakan dalam transaksi baik secara regional dan internasional. Namun, kepercayaan dalam EU lebih abstrak karena sudah terinstitusionalisasi, dimana terdapat institusi seperti European Central Bank (ECB) sebagai untuk memelihara kestabilan Euro sehingga bisa dikatakan ECB sebagai institusi terpercaya untuk memantau kondisi Euro[6]  apalagi mengingat ECB telah mengambil alih dari European Monetary Institution (EMI) untuk mengendalikan moneter EU, termasuk dalam hal suku bunga, mengurus kurs euro, dan mengenalkan euro notes dan koin.[7]

Tapi tidak semua negara anggota EU memilih untuk menggunakan Euro sebagai mata uang negara mereka, salah satunya adalah Inggris. Alasan mereka lebih memilih poundsterling bisa dilihat dari saat John Major menjadi perdana menteri dari Partai Konservatif. John Major menyebarkan euro-scepticism, diikuti juga dengan alasan bahwa urusan keuangan Inggris tidak ada hubunganya dengan kurs euro.[8] Keengganan Inggris ini diikuti oleh Margareth Thatcher hingga David Cameroon.[9]

Dalam penelitian, sebenarnya dengan menggunakan Euro masyarakat Uni Eropa sendiri merasa bahwa sudah ada kesadaran bahwa mereka sudah terintegrasi dengan institusi EU dan merasa bahwa mereka sudah memiliki sense of belonging, meskipun bagi mereka EU masih menjadi nomer dua setelah negara mereka.[10] Menurut analisis penulis, sebenarnya dengan adanya Euro ini dapat menguntungakan dan merugikan. Sisi menguntungkannya adalah ketika negara-negara yang tidak begitu kuat ekonominya bergabung dalam EU dan menyetujui penggunaan Euro secara tidak langsung dia memang terikat dengan anggota lain dansebagai institusi yang mengedepankan collective identity, pasti negara-negara anggota EU akan membantu negara yang kesusahan dan akan mendapatkan bantuan dari negara anggota lain. Contoh saja Irlandia yang sempat mengalami krisis ekonomi akibat dari bubble boom-cycle dan mendapat bantuan pinjaman dari EU dan hasilnya Irlandia lumayan terangkat dengan krisisnya. Namun, ada sisi yang merugikan. Negara-negara yang kuat perekonomiannya seperti Jerman harus menyokong bantuan dana untuk negara-negara yang mengalami krisis karena ia sudah masuk ke dalam lingkaran EU. Padahal sebenarnya perekonomian Jerman cukup kuat dan tidak perlu bergabung dengan EU, apalagi melihat bahwa collective identity sebenarnya masih belum cukup kuat untuk mengikat para negara anggota EU hingga ke bagian masyarakatnya jika kita melihat reaksi Inggris dengan euroscepticism-nya.

Dari analisis di atas, penulis menyimpulkan bahwa memang EU telah mengupayakan euro menjadi suatu simbol dimana EU memang serius dalam menangani keuangan dan membuatnya menjadi collective identity. Namun pengaruh euro terhadap identitas kolektif ini rupanya masih belum begitu terasa dari negara anggota dan masyarakat EU atau dengan singkat, euro masih dinomorduakan.

——————————————————————————————————————————————————————

[1] Ganeshalingam, Jasmine.’Neo-functionalism’ dalam Test Politics (online) http://testpolitics.pbworks.com/w/page/25795541/Neo%20-%20functionalism diakses pada tanggal 15 April 2014 pukul 12.40 WIB

[2] Risse,Thomas.,E.Daniela, K. Hans-Joachim,R.Klaus.’To Euro or not to Euro? The EMU and Identity of Politics in the European Union’ European Journal of International Relations, Juni 1999,Vol.5, No.2, pp.150

[3] Fontaine, Pascal.’The Euro’ dalam Europe in 12 Lessons, Luksemburg, Publications Office of European Union, 2010,pp.46

[4] Anonim.’Euro and EMU’ Politics UK (online) http://www.politics.co.uk/reference/euro-and-emu diakses pada 15 April 2014 pukul 13.00 WIB

[5] Anderson, Benedict. Imagined Communities, London, Verso, 1983.

[6] Dodd, Nigel (ed.). ‘What is ‘Sociological’ about Euro?’ European Societies, vol 3,2001 pp.23-29

[7] Warleigh, Alexander. Understanding European Union Institutions, Canada, Routledge, 2002, pp.890

[8] T.G. Risse,pp.160

[9]Ferguson, Niall.’Great Birtain Saves Itself by Rejecting the EU’ dalam The Daily Beast (online) http://www.thedailybeast.com/articles/2011/12/09/niall-ferguson-great-britain-saves-itself-by-rejecting-the-eu.html diakses pada tanggal 15 April 2014 pukul 14.05 WIB

[10] Risse, Thomas.’The Euro Identity Politics in Europe’ Paper:The Year of Euro,2002, pp.2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s