Broken-hearted playlist

I hereby blame my hormones due to making me so melancholic lately. I made a broken-hearted playlist (I’m so productive). Hope this playlist could be a great company to mourning your past. (I’ll add some in the future)

Advertisements

A Song for Quarter Life Crisis Survivor

Everyone has soundtracks for their lives. When in jubilant moments, feelin blue, in despair, surrender, fallin in love; well you named them. So do I. And today, I share mine.

Don’t bully my taste bc like I care? :p No. It’s not a love song. The lyric addresses to people whose high anxiety for their future. For everyone that livin in their quarter-life crisis, this song relates us much (cheers!) Nah. This song doesn’t hand you either ‘how to live your unstable life’ practically or ‘how to reach inner peace if you’re 25 y/o’; this song expresses how occasionally people are unsure for their paths, seem all of them irreversible and need a boldness to choose. C’est la vie, keep moving forward.

This is my song, how about you?

Trial and Error of Making Spinach

Mau bikin bayam nggak punya temukunci, gula, dan bawang merah? No worry.. I successfully made it by myself. Okay, tada!

Bayam

Looks compelling & promising like my future, right? (Aamiin). Am very elated with my 2nd attempt of cooking spinach! On my previous trial, I used temukunci and sugar. Frankly, my first spinach was frickin salty bc I put much sugar into it and I wanted to make it balance for flavour, yet it tasted awful. I’m so proud of myself! (anak kos’ tears in joy). I guarantee the taste! Anyway, I would thank to Cookpad users for giving alternatives while I lacked ingredients ❤ Guess what, I only used my intuition when I was cooking it; just put them all randomly. Taste it while you’re cooking, to test that yours are edible. Can’t wait to cook other veggies!

 

Anyway, here are the ingredients:

  1. A bunch of spinach3
  2. 3 cloves of onion
  3. Corn (no wonder, it substitutes sugar)
  4. A carrot
  5. Salt
  6. Water
  7. 1/2 of tomato

 

Nostalgia: MTV Indonesia

 

house-nav
MTV (taken from: MTV.co.uk)

 

 

Minggu ini rasanya ingin sedikit bernostalgia dengan kenangan zaman kecil dulu. (sebenarnya gara-gara disuruh bikin makalah di kampus sih :p)

Tulisan ini masih butuh analisis lebih dalam, baik dari segi televisi swasta di Indonesia dan digali lagi dengan tema ‘penjajahan’ yang ingin saya usung di esai ini.

MTV: Ekspansi Pasar Global

Music Television (MTV) merupakan saluran kanal televisi kabel 24 jam yang memutarkan musik dan program-program yang digandrungi anak muda. Awalnya dimiliki oleh Warner Amex Satellite, kemudian beralih ke Viacom International pada tahun 1985.[1] Viacom International ini memiliki MTV dan MTV2, selain itu ia juga memiliki beberapa perusahaan seperti televisi kabel, radio, internet, percetakan buku, produsen dan distributor film. Dari usaha-usaha yang dikuasai, membuatnya menjadi konglomerasi media besar di dunia.

Continue reading “Nostalgia: MTV Indonesia”

The Fragile Woman

I met a fragile woman. She’s tough and intimidating from outside. Some say she’s hard to approach and a rock-headed kind.  She’s mysterious and never put a smile yet smirks a lot. She’s unbeatable.

Nonetheless,  I only see her as a beautiful fragile woman. She’s softly sentimental. Once you reach the bottom of her heart, she will pull you through into her universe. Yes, she was broken once and you could perceive a shattered heart in her; that’s why she never lets any strangers butt in her life.

Percakapan di Bis Kuning

Seseorang berkata,

“Kupikir feminis nggak adil pada pria juga, contoh aja saat di KRL.” katanya sambil mengambil kentang gorengku.

“Lho? Memang kenapa?”

“Saat itu ada ibu-ibu hamil yang capek banget sampai dia membutuhkan kursi. Sementara di bangku prioritas yang duduk itu justru orang-orang yang nggak masuk prioritas. Yang paling aku sebel adalah orang-orang di sekitarku langsung menyuruhku untuk berdiri, kenapa bukan orang yang di bangku prioritas saja yang diusir?”

Belum sempat aku mengeluarkan sumpah serapah padanya, dia menambahkan.

“Kupikir ketika setara adalah baik pria dan wanita bisa memiliki akses sama di ranah publik, bahkan di KRL. Sampai sekarang feminis belum melihat itu.”

Oke, ia ada benarnya juga. Terlepas dari jenis kelamin (sex), menjadi feminis adalah saat kita harus mengerti bagaimana tiap manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses. Ya tiap manusia adalah kita. Apapun label yang kita punya. Pria sebenarnya juga menghadapi persoalan stereotip yang sama dengan perempuan: kuat. Kadang manusia lupa bahwa laki-laki pun masih berhak untuk mendapatkan akses dengan tuntutan stereotip yang ia miliki.

Namun, sepertinya dia dan kita sebagai manusia harus belajar misoginis,  egoisme dan power yang sering jadi akar permasalahan feminisme. Setuju?

Bukan Rumah

Kupikir ini akan menjadi tempat singgahku selama 5 tahun

Tapi aku sadar, aku tak punya kuasa untuk benar-benar bisa menetap di sini

Ketika harga sewa sudah membumbung tinggi, sedangkan aku masih harus membayar cicilan lain

apalah dayaku, sayang?

Toh, aku harus melangkah

 

 

Sayang, apakah kamu tau hal yang kubenci setelah ini?

Saat aku harus bergegas untuk pindah. Ah lelah..